Wednesday, June 28, 2006

Bebas!

Kereta itu membawa kami melaju dalam gelap, menuju ke tempat harapan. Dia masih menunduk, ketakutan. Menangis dalam hati. Senang, sedih, menyesal, takut.

“Kenapa ia tidak terbangun?”

“Dia pasti bangun jika merasa ada sesuatu, dia sangat peka?” tanya Narti

Aku hanya bisa memberi bahu. Menenangkannya dengan mengelus kepalanya sampai akhirnya dia tertidur. Kubisikkan “Tenanglah kamu sudah bebas”.

***

Banyak hal yang terjadi pada dirinya. “Bodoh, kenapa dia hanya diam?!” seru hatiku bertanya tanya. Umpatan mengalir begitu saja dari hatiku. Mengatakan bahwa dia hanya orang bodoh yang hanya duduk diam, tak melakukan apa apa.

Hatiku sakit melihat dia sekarang. Perjuanganku menemaninya dalam susah dan senang. Memberitahunya dalam keadaan salah dan benar ternyata tak berarti apa apa. Sampai sekarang pun dia hanya diam termangu. Tak ada kemajuan, kehidupannya hanya seperti itu saja.

Aku lama mengenalnya. Dari dulu sampai sekarang. Sebelum akhirnya dia terpaksa tinggal dengan wanita tua itu. Aku memang bukan siapa siapa. Hanya seorang Bimo yang bisa bertemu dengannya dikala dia diberi kesempatan keluar untuk membeli persedian buat mereka. Hanya seorang pria yang mencintai seorang Narti.

Narti kehilangan orang tuanya sedari dia duduk sekolah tingkat pertama. Kecelakaan itu membuatnya menjadi pendiam. Memaksa dia untuk nunut dengan hidup. Ikut dengan peraturan yang sudah dibuat.

Sore itu aku bertekad. Kelelahanku harus dihentikan. Kesedihanku harus kuselesaikan. Terlalu sakit mengurusi orang lain. Aku harus bertindak. ”Ya harus” teriak hatiku lagi memaksa langkahku kerumah tua itu.

Wanita tua itu selalu ada disitu. Menunggu suara azan berkumandang dari masjid. Menjadi penanda baginya untuk pindah dengan salah seorang pelayan setianya. Selalu seperti itu. Lalu setelah melakukan ritual yang entah dia sadar atau tidak telah melakukan persembahan untuk tuhannya itu kembali ia keluar, ketaman luas itu lagi. Diam tak bicara dengan siapapun. Pelayan setianya hanya menghantarkan wedang jahe panas lalu setelah itu berlalu. Pekerjaan itupun selalu ia lakukan. Seperti biasa.

Gurat jingga berubah gelap. Hari beranjak malam. Suara jangkrik ditaman yang remang karena hanya disinari sebuah lampu taman bulat sebagai penerang sudah berbunyi. “Narti, bawa aku masuk!” jeritnya keras memanggil nama pelayannya itu.

“Kambing, kemana saja kau lama sekali!” umpatnya. Kata kata kasar itu sudah menjadi pewarna bibirnya. Yang aku herankan pelayan itu tak mau berubah. Agar tak dijeriti seharusnya dia berlari kencang agar umpatan itu tak keluar lagi dari mulut seorang wanita tua. Bukankah itu sungguh sangat memalukan.

“Dia nenekku, aku bingung harus bagaimana?”

“Kudoakan dia agar cepat mati tapi aku takut dosa”

“Aku takut doaku berbalik padaku” Aku takut Bim.

“Ya Nar aku tahu, tapi kenapa kau hanya diam tak berusaha lepas dari itu semua” ucapku lagi.

Kau terlalu baik pada wanita tua yang tak seorangpun mau mengurusnya itu. Kelakuannya pada masa lalu yang membuat orang ngeri. Ngeri menemuinya. Takut kalo dimakan, disantet.

Orang orang mungkin sudah mendoakannya untuk cepat hengkang dari dunia fana ini. Tapi kenapa tuhan tidak mengabulkan permintaan mereka. Kasihan Narti!.

***

Kulihat lampu didalam rumah tua itu sudah padam. Kupanjati pagar itu. Mengendap endap kumasuki ruangan demi ruangan. Tujuan utamaku adalah kamar wanita tua itu. Kebetulan kamar wanita tua itu berada di depan. Tak memakan waktu lama untuk tiba didepan pintu kamar yang terbuat dari kayu jati itu. Begitu kokoh dan kuat. Bau jati tercium tak tahu karena aku terlalu mendramatisir perasaan ku atau karena keringat dinginku memang sudah keluar karena ketakutanku.

Bulu kudukku berdiri. Angin yang bertiup membuat aku semakin takut dan berpikir ulang untuk mununtaskan niatku. “Kasihan Narti” kalimat itu kembali terngiang yang semakin menguatkan tekadku.

Kreeek suara pintu terbuka itu semakin membuat aku takut. Bau bunga kenanga dari taman depan yang selalu ditaburi diatas peraduan wanita tua itu pada tiap paginya tercium. Bercampur bau pengap karena kamar itu jarang di buka karena pemilik kamarnya tak suka ada cahaya masuk ketika dia berada dalam kamar kesayangannya.

Bau apek sprei, “Kau hebat Narti” pikirku.

”Dia tak suka ada yang menyentuh barangnya ketika narti ingin mencuci sprei alas ia tidur. “Tak perlu kau lakukan, aku tak mau kau terlalu lelah” kata Narti menceritakan perintah majikannya itu. Tak kusangka masih ada kebaikannya. Tapi aneh bukankah sprei yang kotor harus di bersihkan.

Lampu kecil disamping tempat tidurnya cukup memberi penerangan dalam kamar ini. Kulihat wanita itu. Dalam tidurpun aku ngeri melihatnya. Membayangkan apa yang pernah ia lakukan membuat aku mundur beberapa langkah. “Bagaimana jika ia hanya pura pura tidur untuk menjebakku sehingga ketika aku sudah dekat dengan tepi ranjangnya dia akan dengan mudah mencekikku.

Kasihan Narti, Narti harus aku selamatkan. Ketika aku semakin dekat dengan tempat tidurnya. Senyum kecilku berkembang, “Sebentar lagi kau akan aku selamatkan Narti” cepat cepat kukelurakan pisau kecil yang sudah kusaipkan sedari tadi. Pisau ini punya andil besar malam ini. Tajamnya dapat membebaskan dirimu tanpa melukai orang lain. Dan jika harus melukai aku tak perlu takut karena semua orang memang sudah mendukungku.

***

“Kalau kau tak segera menyelamatkan Narti dia pasti bisa jadi gila” tadi pagi kulihat dia menangis, berlari, tertawa sendiri” kami jadi takut sekaligus kasihan dengan dia. Orang disekelilingku mendorongku menolongnya. Ketika kuberi tahu Narti ucapan itu dia hanya mengatakan kasihan nenekku. Kasihan dia. Dengan senyum getir, dia berjalan didepanku pergi meninggalkanku tanpa kata kata.

***

Lama kupandangi wanita yang sedang lelap dalam mimpinya itu. Tak banyak bergerak. Dia begitu damai. Tak sadar aku telah siap membuat hidupnya menderita, mungkin karena aku juga tak tahu apakah dia akan menderita setelah apa yang kau lakukan malam ini.

Kuperhatikan bagian tubuh wanita itu, tak kutemukan benda yang aku cari. “Pasti dibawah bantal” pikirku. Dia menaruh kunci itu di bawah bantal. Kuraba bagian bawah bantal wanita itu. Tubuhnya bergerak sejenak aku terpojok. Tanganku tak bisa bergerak. Gerakanya membuat tubuhku kaku.

“Tuhan bantu aku, aku hanya ingin menyelamatkan satu orang yang akan gila jika tak kubantu” doaku dalam hati. Perlahan tapi pasti, setelah apa yang aku cari kutemukan aku berjalan mencari Narti.

Kemudian dalam ruangan itu kucari satu sisi ruang yang menurutku menjadi ruangan rahasia itu. Ya kutemukan. Tega sekali kau wanita jahat, sumpah serapahku kembali keluar jika aku tak berpikir kembali mungkin sudah apa yang aku lakukan.

Kubuka kunci kamar itu dengan anak kunci yang kuambil dengan sudah payah. Seorang wanita dengan tangan diikat sedang tidur meringkuk ketika pintu kamar itu terbuka. Kubangunkan dia tapi tak terbangun. Kulihat wajahnya pucat, tangannya dingin. Narti, Narti! Kau kenapa suaraku agak berteriak. Bangun Narti kau akan selamat. Bangun Narti kereta sudah menunggu kita. **

posted by nasatri @ 11:09 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
About Me


Name: nasatri
Home: Bandarlampung, Lampung, Indonesia
About Me: mays??? gimana ya, yang pasti gw orangnya baik, jujur, rajin, pinter, ehm...,rajin nabung, beneran?! seriusan heheheh... seprti gw, gw mau temenan ma orang yang baik, jujur, rajin, pinter, rajin menabung biar ntar kaya?!ya ga? ga kok gw mau temenan ma rang yang mau temenan ma gw simple khan ok see u in my friendster
See my complete profile

Sekarang Jam
Tulis Pesan dunk...
    Name :
    Web URL :
    Message :
Baca Juga
Arsip-Arsip
Blog Teman
Template by
Free Blogger Templates