Tuesday, April 10, 2007


















Kenangan indah bersama Teknokra. Foto ini diambil ketika perayaan hari Ulang Tahun ke 28 UKPM Teknokra Unila yang selalu di rayakan setiap tanggal 1 Maret. Dari kiri ke kanan Eka, Eva, Mada, Heny, Mays, Irma, Rieke, Muna, dan dedesop.
posted by nasatri @ 9:07 AM   2 comments
Wednesday, June 28, 2006
Belajar sambil Bermain

Jefri murid kelas empat SD, dia punya adik. Bulan ini, tanggal 14 april usianya mencapai 3 tahun. Rendy namanya. Jefri sangat menyayangi Rendy. Rencananya tahun ini Rendy mau sekolah. Mama sedang sibuk mempersiapkan Rendy untuk masuk play group. Besok pagi mama mau mendaftarkan Rendy kesalah satu play group. Mama mengatakan bulan Juli nanti Rendy sudah mulai masuk sekolah.

Setiap pagi ketika Jefri mau pergi sekolah Rendy selalu bertanya

“Mau kemana bang?, mau kemana ya?”. Pertanyaan itu keluar setiap kali Rendy melihat Jefri memakai baju sekolah.

Jefri hanya menjawab mau sekolah.

“Tulis tulis ya?”tanyanya lagi.

“Ia nanti rendy juga sekolah, trus tulis tulis” sahut Jefri.

“One,Two, Three,Ffour, Five,Six, Seven, Eight, Nine, Ten”seru Rendy perlahan sambil berlalu mencari mama. Rendy hapal kalimat itu. Dia sering nonton acara anak di TV tiap paginya. Mama juga yang mengajarkan.

Pulang sekolah jefri melihat sebuah papan tulis kecil 0baru di ruang tamu. Rupanya mama baru membelinya. Mama bilang papan tulis itu untuk Rendy belajar. Dan Jefri yang harus mengajarkan Rendy. Mama juga membeli balok balok huruf dan angka. Jefri bingung. Bagaimana cara mengajari Rendy. Lalu Jefri teringat cara mama mengajarinya waktu pertama ia masuk sekolah. Cara mama mengajarinya tak pernah dilupaknnya.

Sama seperti ketika Jefri akan masuk sekolah. Mama juga membelikan Jefri papan tulis kecil baru. waktu itu Jefri diajari cara menghafal huruf. Mama menuliskan huruf di papan tulis, lalu dia meminta Jefri mencari huruf yang sama dengan huruf yang dia tunjuk di papan tulis di tumpukan balok balok huruf dan angka. Mama dengan sabar mengajari Jefri. Dengan begitu Jefri bisa membedakan huruf dan angka sekaligus mengingatnya. Mama menyebutnya belajar sambil bermain.

Sehabis makan siang Jefri pergi untuk tidur siang. Pukul tiga sore hari Jefri dibangunkan mama untuk belajar. Mengulang kembali pelajaran di sekolah dan mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Tentu saja Rendy ada disana. Sibuk memperhatikan.

“Mau tulis tulis ma, mau tulis tulis” rengeknya. Mama lalu memberi sebuah buku dan pensil serta beberapa pensil warna yang memang sudah dipersiapkan untuk Rendy. Kemudian Rendy sibuk mencoret coret bukunya. Sedang mama mengajari Jefri tentang pekerjaan rumahnya.

Karena minggu depan anak kelas enam melaksanakan ujian nasional murid kelas satu sampai lima libur. berarti minggu depan Jefri libur. Tapi Jefri tidak libur total. Jefri harus mempersiapkan diri menghadapi ujian kenaikan kelas. Dia harus belajar lebih keras.

Beberapa temannya beberapa kali datang kerumah. Jefri dan teman temannya belajar kelompok di rumah. Rendy hanya memperhatikan. Terkadang menggangu dengan pertanyaan pertanyaan.

“Abang lagi apa ya, kok rame?”tanyanya.

“Belajar kelompok Rendy”jawab Jefri. Mama lalu memberi Rendy buku dan pensil kepada Rendy agar tidak mengganggu Jefri dan temannya belajar.

Karena belajar giat jefri bisa mengikuti ujian kenaikan kelas dengan baik. Sambil menunggu pembagian raport Jefri mengajari adiknya.

Papan tulis sudah dipersiapkan. Tumpukan balok huruf dan angka juga telah dipersiapkan. “Tulis tulis yuk Ren”ajak Jefri. Dengan semangat Rendy mengikuti kakaknya. Jefri menuliskan huruf dan angka berurutan di papan tulis baru milik rendy. Setelah rapih, Rendy mencoret coret papan tulis. Karena tercoret, Jefri menuliskan kembali dan meminta Rrendy untuk tak mencoret papan tulis lagi. Rendy menuruti Jefri. Tapi tak berapa lama Rendy melakukan hal yang sama. Beberapa kali Rendy melakukan hal itu. Rendy malah menggambar lingkaran lingkaran tak beraturan. Karena kesal hampir saja Jefri marah. Karena tak berhasil, mama mengingatkannya. Lalu mama melanjutkan mengajari Rendy.

Keesokan harinya mama memberi tahu Jefri bahwa ketika mengajari Rendy harus dengan kesabaran. Mama bercerita, pada waktu mengajari Jefri dulupun mama juga kewalahan. Tapi mama sabar. Sampai akhirnya Jefri paham dan mengerti seperti sekarang. Jefri berpikir, sangat sulit ternyata mengajari. Selain harus paham dan lebih tahu tentang apa yang diajarkan selebihnya harus sabar. Hal itu diingatnya. Jefri berjanji dalam hati akan sabar mengajari Rendy.

Esoknya Jefri kembali mengajak Rendy untuk belajar. Tapi kali ini Jefri membiarkan Rendy untuk mencoret coret papan tulis. Tetapi Jefri selau menanyakan apa yang di coretkan Rendy di papan tulis. Setelah itu baru kemudian Jefri yang menulis di papan tulis. Jefri berhasil menuliskan huruf dan angka. Kemudian Jefri mengatakan bahwa angka satu itu one, angka dua itu two dan seterusnya. Kemudian bersama sama mereka berkata “One,Two, Three,Ffour, Five,Six, Seven, Eight, Nine, Ten!

“Pintaaar” seru Jefri kepada rendy. Hari ini Rendy belajar seperti itu

Besok atau lusa mungkin Jefri akan mengajak belajar sambil bermain mencari angka dan huruf. Yang Jefri tahu sekarang adalah dia harus sabar. Rendy tak seperti dia. Rendy masih anak kecil. Jefri mungkin hanya bisa mengenalkan tentang huruf dan angka, dan sedikit mengajak rendy untuk menuliskannya. Ya masih lama proses belajar yang harus di lalui. Tapi Jefri ingat pepatah yang disampaikan gurunya. “Sambil berenang minum air” Pikirnya sambil mengajari Rendy dia dapat sekaligus belajar. Dan pelajaran yang berharga yang diambil Jefri adalah dia harus sabar untuk mendapatkan sesuatu tetapi tak boleh berhenti berusaha.

posted by nasatri @ 11:14 PM   1 comments

Bebas!

Kereta itu membawa kami melaju dalam gelap, menuju ke tempat harapan. Dia masih menunduk, ketakutan. Menangis dalam hati. Senang, sedih, menyesal, takut.

“Kenapa ia tidak terbangun?”

“Dia pasti bangun jika merasa ada sesuatu, dia sangat peka?” tanya Narti

Aku hanya bisa memberi bahu. Menenangkannya dengan mengelus kepalanya sampai akhirnya dia tertidur. Kubisikkan “Tenanglah kamu sudah bebas”.

***

Banyak hal yang terjadi pada dirinya. “Bodoh, kenapa dia hanya diam?!” seru hatiku bertanya tanya. Umpatan mengalir begitu saja dari hatiku. Mengatakan bahwa dia hanya orang bodoh yang hanya duduk diam, tak melakukan apa apa.

Hatiku sakit melihat dia sekarang. Perjuanganku menemaninya dalam susah dan senang. Memberitahunya dalam keadaan salah dan benar ternyata tak berarti apa apa. Sampai sekarang pun dia hanya diam termangu. Tak ada kemajuan, kehidupannya hanya seperti itu saja.

Aku lama mengenalnya. Dari dulu sampai sekarang. Sebelum akhirnya dia terpaksa tinggal dengan wanita tua itu. Aku memang bukan siapa siapa. Hanya seorang Bimo yang bisa bertemu dengannya dikala dia diberi kesempatan keluar untuk membeli persedian buat mereka. Hanya seorang pria yang mencintai seorang Narti.

Narti kehilangan orang tuanya sedari dia duduk sekolah tingkat pertama. Kecelakaan itu membuatnya menjadi pendiam. Memaksa dia untuk nunut dengan hidup. Ikut dengan peraturan yang sudah dibuat.

Sore itu aku bertekad. Kelelahanku harus dihentikan. Kesedihanku harus kuselesaikan. Terlalu sakit mengurusi orang lain. Aku harus bertindak. ”Ya harus” teriak hatiku lagi memaksa langkahku kerumah tua itu.

Wanita tua itu selalu ada disitu. Menunggu suara azan berkumandang dari masjid. Menjadi penanda baginya untuk pindah dengan salah seorang pelayan setianya. Selalu seperti itu. Lalu setelah melakukan ritual yang entah dia sadar atau tidak telah melakukan persembahan untuk tuhannya itu kembali ia keluar, ketaman luas itu lagi. Diam tak bicara dengan siapapun. Pelayan setianya hanya menghantarkan wedang jahe panas lalu setelah itu berlalu. Pekerjaan itupun selalu ia lakukan. Seperti biasa.

Gurat jingga berubah gelap. Hari beranjak malam. Suara jangkrik ditaman yang remang karena hanya disinari sebuah lampu taman bulat sebagai penerang sudah berbunyi. “Narti, bawa aku masuk!” jeritnya keras memanggil nama pelayannya itu.

“Kambing, kemana saja kau lama sekali!” umpatnya. Kata kata kasar itu sudah menjadi pewarna bibirnya. Yang aku herankan pelayan itu tak mau berubah. Agar tak dijeriti seharusnya dia berlari kencang agar umpatan itu tak keluar lagi dari mulut seorang wanita tua. Bukankah itu sungguh sangat memalukan.

“Dia nenekku, aku bingung harus bagaimana?”

“Kudoakan dia agar cepat mati tapi aku takut dosa”

“Aku takut doaku berbalik padaku” Aku takut Bim.

“Ya Nar aku tahu, tapi kenapa kau hanya diam tak berusaha lepas dari itu semua” ucapku lagi.

Kau terlalu baik pada wanita tua yang tak seorangpun mau mengurusnya itu. Kelakuannya pada masa lalu yang membuat orang ngeri. Ngeri menemuinya. Takut kalo dimakan, disantet.

Orang orang mungkin sudah mendoakannya untuk cepat hengkang dari dunia fana ini. Tapi kenapa tuhan tidak mengabulkan permintaan mereka. Kasihan Narti!.

***

Kulihat lampu didalam rumah tua itu sudah padam. Kupanjati pagar itu. Mengendap endap kumasuki ruangan demi ruangan. Tujuan utamaku adalah kamar wanita tua itu. Kebetulan kamar wanita tua itu berada di depan. Tak memakan waktu lama untuk tiba didepan pintu kamar yang terbuat dari kayu jati itu. Begitu kokoh dan kuat. Bau jati tercium tak tahu karena aku terlalu mendramatisir perasaan ku atau karena keringat dinginku memang sudah keluar karena ketakutanku.

Bulu kudukku berdiri. Angin yang bertiup membuat aku semakin takut dan berpikir ulang untuk mununtaskan niatku. “Kasihan Narti” kalimat itu kembali terngiang yang semakin menguatkan tekadku.

Kreeek suara pintu terbuka itu semakin membuat aku takut. Bau bunga kenanga dari taman depan yang selalu ditaburi diatas peraduan wanita tua itu pada tiap paginya tercium. Bercampur bau pengap karena kamar itu jarang di buka karena pemilik kamarnya tak suka ada cahaya masuk ketika dia berada dalam kamar kesayangannya.

Bau apek sprei, “Kau hebat Narti” pikirku.

”Dia tak suka ada yang menyentuh barangnya ketika narti ingin mencuci sprei alas ia tidur. “Tak perlu kau lakukan, aku tak mau kau terlalu lelah” kata Narti menceritakan perintah majikannya itu. Tak kusangka masih ada kebaikannya. Tapi aneh bukankah sprei yang kotor harus di bersihkan.

Lampu kecil disamping tempat tidurnya cukup memberi penerangan dalam kamar ini. Kulihat wanita itu. Dalam tidurpun aku ngeri melihatnya. Membayangkan apa yang pernah ia lakukan membuat aku mundur beberapa langkah. “Bagaimana jika ia hanya pura pura tidur untuk menjebakku sehingga ketika aku sudah dekat dengan tepi ranjangnya dia akan dengan mudah mencekikku.

Kasihan Narti, Narti harus aku selamatkan. Ketika aku semakin dekat dengan tempat tidurnya. Senyum kecilku berkembang, “Sebentar lagi kau akan aku selamatkan Narti” cepat cepat kukelurakan pisau kecil yang sudah kusaipkan sedari tadi. Pisau ini punya andil besar malam ini. Tajamnya dapat membebaskan dirimu tanpa melukai orang lain. Dan jika harus melukai aku tak perlu takut karena semua orang memang sudah mendukungku.

***

“Kalau kau tak segera menyelamatkan Narti dia pasti bisa jadi gila” tadi pagi kulihat dia menangis, berlari, tertawa sendiri” kami jadi takut sekaligus kasihan dengan dia. Orang disekelilingku mendorongku menolongnya. Ketika kuberi tahu Narti ucapan itu dia hanya mengatakan kasihan nenekku. Kasihan dia. Dengan senyum getir, dia berjalan didepanku pergi meninggalkanku tanpa kata kata.

***

Lama kupandangi wanita yang sedang lelap dalam mimpinya itu. Tak banyak bergerak. Dia begitu damai. Tak sadar aku telah siap membuat hidupnya menderita, mungkin karena aku juga tak tahu apakah dia akan menderita setelah apa yang kau lakukan malam ini.

Kuperhatikan bagian tubuh wanita itu, tak kutemukan benda yang aku cari. “Pasti dibawah bantal” pikirku. Dia menaruh kunci itu di bawah bantal. Kuraba bagian bawah bantal wanita itu. Tubuhnya bergerak sejenak aku terpojok. Tanganku tak bisa bergerak. Gerakanya membuat tubuhku kaku.

“Tuhan bantu aku, aku hanya ingin menyelamatkan satu orang yang akan gila jika tak kubantu” doaku dalam hati. Perlahan tapi pasti, setelah apa yang aku cari kutemukan aku berjalan mencari Narti.

Kemudian dalam ruangan itu kucari satu sisi ruang yang menurutku menjadi ruangan rahasia itu. Ya kutemukan. Tega sekali kau wanita jahat, sumpah serapahku kembali keluar jika aku tak berpikir kembali mungkin sudah apa yang aku lakukan.

Kubuka kunci kamar itu dengan anak kunci yang kuambil dengan sudah payah. Seorang wanita dengan tangan diikat sedang tidur meringkuk ketika pintu kamar itu terbuka. Kubangunkan dia tapi tak terbangun. Kulihat wajahnya pucat, tangannya dingin. Narti, Narti! Kau kenapa suaraku agak berteriak. Bangun Narti kau akan selamat. Bangun Narti kereta sudah menunggu kita. **

posted by nasatri @ 11:09 PM   0 comments
Sunday, October 09, 2005
run,,, run,,,run!!!

berlari, mungkin sekarang aku sedang berlari menjauhi sesuatu. aku memang manusia yang hanya bisa berlari. terus terang aku tak sangup. aku letih sendiri. jadinya lebih baik aku lari...
walaupun, aku tahu. semua tak akan selesai begitu saja. malah akan bertambah banyak permasalahan lain yang akan timbul.

semua tulisan yang ada serasa memojokkan aku..
semua kata yang terlontar seperti menjugde aku..

ternyata aku bukan apa apa..
aku hanya orang yang tak tahu apa apa..

padahal, sebenarnya dan mungkin jika semua permasalahan itu kukerjakan satu persatu pasti bisa terselesaikan..

aku punya banyak tanggung jawab, sama seperti yang lain.
mungkin juga benar aku penghayal..pemimpi...

sekarang aku sadar, perlu banyak usaha keras lagi untuk selesaikan semua..
lari lari lari....
hanya letih, ketika kembali semua sama seperti dulu..
mungkin fisik tubuh berubah karena lari..tapi napas ku tersengal sengal...tak bisa mengikuti lagi ritme lagu,,

ya sudah sekarang keputusan ada di tanganku.
mau apa?
mau lari lagi?!!!

ya lari mengajar ketertinggalan ku!

lari..lari..lari..!!!
posted by nasatri @ 12:14 AM   1 comments
Friday, September 30, 2005
Siang ini angin berhembus membuat panas menjadi semakin terasa tak nyaman. Aku berada di depan komputer, memandangi, mengetik, merenung, mengetik lagi...bingung tak tahu ingin menulis apa. Baru saja aku membalas mail dari seorang teman. Dia membalas mailku tentang sebuah persahabatan. ga tau otakku terganggu tentang makna persahabatan. Bukan tanpa alasan, tapi aku juga bingung untuk mengungkapkan alasanku itu.

harus diselesaikan terlebih dahulu oleh diriku baru aku bisa mengatakan bahwa aku bisa menjalani semua dengan nyaman..dan semua berakhir baik!
posted by nasatri @ 10:58 PM   3 comments
Banyak sekali pilihan tentang hidup. Tergantung bagaimana, apa, mengapa, tentang pilihan yang kita putuskan.
Untuk pilihan pertama kali ini aku memilih untuk masuk ke dunia baru. Berharap pilhan itu tepat, walau ketepatan itu aku yang memilih dan melaksanakan.
posted by nasatri @ 10:53 PM   0 comments
About Me


Name: nasatri
Home: Bandarlampung, Lampung, Indonesia
About Me: mays??? gimana ya, yang pasti gw orangnya baik, jujur, rajin, pinter, ehm...,rajin nabung, beneran?! seriusan heheheh... seprti gw, gw mau temenan ma orang yang baik, jujur, rajin, pinter, rajin menabung biar ntar kaya?!ya ga? ga kok gw mau temenan ma rang yang mau temenan ma gw simple khan ok see u in my friendster
See my complete profile

Sekarang Jam
Tulis Pesan dunk...
    Name :
    Web URL :
    Message :
Baca Juga
Arsip-Arsip
Blog Teman
Template by
Free Blogger Templates